Home > Info Terbaru > Lirik Lagu – Lord, Let My Heart be Good Soil

Lirik Lagu – Lord, Let My Heart be Good Soil

Lord, let my heart be good soil

Open to the seed of Your word

Lord, let my heart be good soil
Where love can grow and peace is understood

Bridge
When my heart is hard, break the stone away

When my heart is cold, warm it with the day
When my heart is lost, lead me on Your way

Reff
Lord, let my heart,
Lord, let my heart,
Lord, let my heart be good soil

Cara menyanyi : Bait – Bridge – Reff – back to Bait – Bridge – Reff – Bridge – Reff
Tweet

Incoming search terms:

  • pencipta lagu lord let my heart be good soil

Tags: , , , , ,



Artikel Yang Lain:


  1. Hari Bodoh? Ya Hari Ini
  2. Potret Malam Ibukota by Rayi W Karyadi
  3. 12 Saran Praktis Cara Berhenti Merokok
  4. Cara mengganti background grub loader di gnu/linux ubuntu (Gnu Grub Boot Loader)
  5. Bank Indonesia Terima Tukar Uang Lama Sampai 30 Desember
  6. Ini yang Terjadi di Otak Anda Ketika Melihat Video Porno
  7. Barcelona Cetak Rekor Saat menaklukkan AC Milan
  8. Cara Membuat Blog Gratis Blogger / Blogspot di Internet Terbaru
  9. Cara Memanfaatkan Blog Zombie yang Benar
  10. Fenomena pelangi dimalam hari 2012 [PIC]

Comments are closed.

Potret Malam Ibukota by Rayi W Karyadi

Selamat malam semuanya. Malam ini aku akan memposting salah satu catatan atau notes dari salah satu temanku di media sosial. Semoga teman-teman terkesan :)
Selamat membaca.

Catatan ini untuk kemarin (13 September 2013)
Bersyukur sekali minggu pertama terjun bebas di dunia pekerjaan akhirnya terlewati juga, meski dengan banjiran air mata melankolis, hahaha. Juga, terimakasih Tuhan telah menyediakan beberapa orang yang mau ditanya-tanya, karena ketidak-mudenganku (ketidaktahuan-red) pada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan seorang guru.

 Terlebih bersyukur juga untuk perlindungan-Nya dalam perjalanan pulangku ke rumah Jumat malem kemarin. Pujian serta syukurku memang layak ditinggikan untuk Allah satu-satunya, karena Ia perlihatkan kehidupan malam yang padat di Jakarta dan aku sangat menikmati dan mensyukurinya.

Kududuk di bis kota dengan badan dan mata yang lelah. Tidak beberapa lama kemudian, pengamen demi pengamen silih berganti mendendangkan berbagai jenis lagu dengan iringan gitar tuanya. Ada yang menyanyikan lagu-lagu indie atau lagu-lagu dengan lirik-lirik puitis, kritis, dan keras. Ada juga yang menyanyikan lagu-lagu band dengan suara meliuk-liuk. Ada pula yang menyanyikan lagu aliran Jamaika atau reggae dengan tabuhan jimbe-nya yang khas. Musik-musik gratis bawaan para pengamen itu mengiringiku memandang kepadatan kota pada malam hari. Kendaraan-kendaraan yang mulai memadat di jalan raya karena sudah jamnya pulang kerja, gedung-gedung yang menjulang tinggi nampak menjadi ornamen kota yang cantik karena kilauan lampu-lampunya, suara klakson bergema dimana-mana, dan aku hanya diam sambil menikmati, juga mensyukurinya.

Tiba di terminal Blok M, kunaiki bis kota tanpa AC dengan gaya mengemudi si sopir yang seperti sedang mengendarai mobil mogok. Aku duduk di dekat pintu masuk sambil mengedarkan pandangan ke suasana malam di terminal Blok M dengan mulut dan hidung yang kututupi tissu karena tidak ingin menghirup polusi. Nampak orang-orang yang baru pulang kerja berwajah dua: wajah letih karena seharian bekerja bercampur wajah bersukacita karena telah tiba di pintu gerbang week-END! Seperti yang kurasakan juga. Selain itu, beberapa pria muda berpenampilan lusuh dan seadanya pun menjinjing gitar mereka, beberapa kulihat berjalan sambil menikmati udara malam yang penuh polusi sambil memetik gitar dan bersenandung. Betapa para pengamen jalanan itu mengajarkan tentang bersyukur dengan apa yang ada.

Keluar dari terminal Blok M, di jalanan yang untungnya tidak begitu macet, kulihat juga beberapa gerobak yang penuh barang memarkirkan dirinya di trotoar di depan gedung-gedung besar, di sebelah gerobak ada seorang ibu tua renta bersama anak-anak kecilnya yang penampilannya tidak kalah lusuh dengan gerobaknya. Gerobak itu adalah rumahnya nampaknya. Seandainya kubisa mengabadikan potret kondisi ibu berumah gerobak di depan gedung besar yang kokoh ini, akan kujuduli potret ironi ibukota. Potret yang dengan kebisuannya mengajarkan banyak hal tentang bersabar, bersyukur, dan tidak menuntut.

Terimakasih Tuhan untuk suasana padatnya ibukota yang kunikmati semalam. Aku bersyukur di tengah keletihan yang ada, aku masih bisa menikmati dan belajar banyak darinya. Terimakasih Tuhan untuk setiap hal yang Tuhan sediakan di sekitarku dan pilihan untuk menikmati, juga mensyukurinya.

sumber : Facebook Notes by Rayi W Karyadi
Dengan perubahan seperlunya.
Tweet

Tags: , , , ,



Artikel Yang Lain:


  1. PNS Dipecat, Karna jadi CAlo CPNS
  2. Inilah Buah-Buahan yang Baik Bagi Ibu Hamil
  3. Cara Menggunakan Fungsi Cascade di MySQL
  4. Barcelona luar biasa, AC Milan Tak Berdaya
  5. Pria Aneh Perkosa 300 Ayam, Polisi Bingung Cari Pasal Pidana
  6. Hari Belanja Online Nasional, 20 Toko Online Diskon Besar-Besaran !
  7. Wow, Ponsel Smartphone Android Ini Dijual Seharga 22 Juta !
  8. JKT48 – Pareo is Your Emerald (Pareo wa emerald english)
  9. Status Gunung Kelud Jadi Waspada, Warga Punya “Alarm” Sendiri !
  10. Tahukah Anda, 6 Fakta Baru Tentang Kolesterol ?

Comments are closed.