Home > Unik > 24 Juni 2014 Semua Bungkus Rokok Bergambar Seram

24 Juni 2014 Semua Bungkus Rokok Bergambar Seram

472a7ac3a406e5fe2487508f5d275b4d-Gambar+Rokok

 marlborothailand

Liputan6.com, Jakarta Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengaku tidak akan menerima alasan apapun terkait perpanjangan waktu untuk mengubah kemasan rokok bergambar seram yang akan berlaku pada 24 Juni 2014. Ia bahkan mengatakan, semua masyarakat berhak memberitahu bila masih ada kemasan rokok yang tidak berubah.

“Memang ada yang keberatan. Mereka bilang kenapa gambarnya high resolution, kami jawab mulai sajalah. Supaya perokok pemula takut. Kenapa anak muda kita sakit, kanker, stroke, okelah kalau dia mampu bayar tapi penderitaannya luar biasa. Mereka merusak janin tidak bersalah. Jangan tunggu sanksi deh, kita ini bangsa cinta sesama atau tidak. 6 tahun sudah diperigati, UU pun dia gak mau ikut. Ada PP 109 serta Permenkes. Kami juga sudah kirimkan contoh gambar, mereka tinggal cetak. kalau masih tidak mau, mereka berarti tidak peduli kesehatan rakyat,” tegas Menkes di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (19/4/2014).

Menkes mengingatkan, rokok mengandung zat adiktif yang merusak kesehatan karena mengandung 4.000 bahan kimia, yang 40-nya bersifat asinogenik dan penyebab utama 6 dari 8 kematian di dunia.

“Rokok mengakibatkan penyakit kardiovaskuler, infeksi pernafasan, paru kronis, kanker paru, kanker tengorokan, kelainan janin dan sebagainya,” jelasnya.

Selain itu, Menkes melanjutkan, kondisi kita sangat mengkhawatirkan mengingat perokok wanita semakin meningkat. “Tahun 1995 perokok wanita 27 persen, 2013 sudah 36,3 persen. Jumlahnya pada 2013 diperkirakan mencapai 6,3 juta perokok wanita. Sangat disesalkan karena ini  menyangkut janin dan bayinya,” tegasnya.

Sebelumnya, pada 24 juni nanti, sesuai PP 109 tahun 2012, semua industri rokok harus memiliki peringatan informasi kesehatan berupa gambar di kemasan rokok.

 

 

Liputan6.com, Jakarta Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) masih menjadi kontroversi yang tidak ada habisnya. Indonesia menjadi salah satu dari delapan negara yang tidak menandatangani dan belum mengaksesi FCTC.

Dan parahnya, sebentar lagi Indonesia akan memiliki presiden baru. Di kedua kubu ada segelintir pihak yang pro terhadap industri rokok serta antipengendalian tembakau. Jika melihat kondisi ini, optimiskah FCTC akan diaksesi?

Dalam diskusi media mengupas tentang mitos-mitos Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) bersama Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), Kartono Mohamad, secara jujur mengatakan kecewa dengan calon presiden yang tengah bertarung saat ini. Menurut Kartono, di sekitar Joko Widodo, banyak sekali pihak yang pro dengan rokok dan antipengendalian tembakau.

“Bahkan dari partai yang ada di sekitar Pak Jokowi, terdapat tokoh yang ikut menghilangkan ayat tembakau ini. Dan beberapa partai secara jujur mengatakan, pro dengan rokok,” kata Pengurus Komisi Nasional Pengendalian Tembakau di Indonesia, di Bakoel Coffie, Cikini, Jakarta, Kamis (19/6/2014)

Karena alasan ini, pria 70 tahun itu berpikir ulang untuk memilih siapa yang pantas menjabat sebagai RI 1 pada Juli mendatang. “Sampai saat ini saya pun terus menjangkau sampai ke tim sukses Jokowi untuk mengatakan, bisa enggak mengendalikan rokok setelah jadi presiden? Kira-kira, berani, tidak?,” kata Kartono menekankan.

Pun dengan kubu Prabowo, lanjut Kartono, masih banyak orang yang sudah berbau asap dan secara gamblang pro terhadap industri rokok.

“Terus terang, menghadapi pilpres kali ini membuat saya galau. Saya menunggu ada presiden yang berujar ‘Saya akan mengutamakan kesehatan rakyat dan dalam lima tahun ini saya akan mengendalikan hal-hal yang berbahaya bagi masyarakat kita’,” kata Kartono menuturkan.

“Ini yang menjadi perhatian kita bersama. Presiden yang akan datang, tidak bisa banyak yang diharapkan,” kata Kartono menambahkan.

Dalam kesempatan itu, Sosiolog dan Pengajar dari Universitas Indonesia, Dr. Imam Prasodjo, mengatakan,  untuk urusan mengatur para perokok ini, baik Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama (Ahok) menertibkan dengan cara memberikan sanksi. Yaitu bagi siapa pun karyawan yang melanggar, terutama pekerja di gedung pemerintahan, tidak akan mendapatkan tunjangan.

Namun, karena politik membutuhkan dukungan, tidak mungkin akan ada calon presiden yang akan terbuka dan secara blak-blakkan mendukung FCTC. Sebab, mereka sadar bahwa industri rokok ini sangatlah kuat di Indonesia.

“Saya pribadi justru memiliki harapan, baik Pak Jokowi maupun Pak Prabowo yang menjadi presidennya, langsung saja laksanakan penertiban. Tidak usah bertele-tele,” kata Imam.

Dalam sebuah percakapan antara dirinya dan Ahok, pria yang kini menjabat sebagai Pelaksana tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta itu mendorong agar sanksi terkait rokok bukan diberikan kepada perokok itu sendiri. Melainkan tempat usaha yang masih mempersilakan perokok melakukan `aktivitasnya` itu.

“Misalnya restoran. Jika ada yang masih merokok di dalam sini, bukan perokok itu yang dikenakan sanksi, melainkan restoran ini. Ini dilakukan supaya restoran memiliki kemauan untuk menertibkan para perokok agar pihaknya tidak terkena sanksi atau denda,” kata Imam kembali menerangkan.

Imam mengatakan, cara seperti ini jauh lebih efektif, ketimbang harus menertibkan menggunakan cara Satpol PP, dengan mengejar-ngejar orang yang sedang merokok.

(Gabriel Abdi Susanto) –

Sumber:health.liputan6.com



Artikel Yang Lain:


  1. Striker Trinidad Tobago Tewas Karena Serangan Jantung Usai Latihan
  2. Hot! Pose Panas Jupe Bareng Ular
  3. Farhat Abbas: Dewi Perssik Mulutnya Dua
  4. Unik Karena Bertubuh “Raksasa”, Pria Ini Bebas Dari Penjara
  5. Tragis Demi Biayai Keluarga, Pria Ini Makan Batu Setiap Harinya
  6. Elly Sugigi Cerai dari Aldo Rossi, Suami Ketiga Brondong Beda 13 Tahun
  7. Stress Usai Menikah, Perempuan Ini Setiap Hari Pakai Gaun Pengantin
  8. Prabowo Muda Katanya Mirip Al, Ini Komentar Ahmad Dhani
  9. Kesal Tim Terus Diserang, Fans Ini Ajak Kiper Lawan Foto ‘Selfie’
  10. Aneh, Bocah Ini Tak Pernah Lapar dan Sakit

Comments are closed.